Teorema Shannon
Teorema yang berkembang oleh shannon ini
sangat berpengaruh pada pemrosesan sinyal dan teori informasi yang mempelajari
segala sesuatu dari bagaimana menurunkan kelebihan jarak sinyal yang dapat di
terima secara efektif dari sebuah data yang di kirimkan. oleh karena itu
shannon membuat sebuah teorema yang berkaitan tentang kapasitas link dalah hal
bit per detik (bps) sebagai fungsi dari rasio gelombang suara dari link yang di
ukur dalam desibel (dB) dan bandwidth diukur dalam Hertz (Hz).
Teorema Shannon berlaku untuk segala macam
link mulai dari nirkabel atau wireless , kabel koaksial ke serat optik. Untuk
membangun link berkapasitas tinggi di perlukan mulai dari channel bandwidth
tinggi atau rasio sinyal suara bahkan lebih baik jika menggunakan kedua-duanya.
Kemudian kondisi tersebut tidak akan menjamin bahwa kapasitas link tinggi
karena membutuhkan kecerdasan orang yang mendisain atau merancang koding untuk
mencapai batas teori jaringan.
1. Modem
For a typical telephone line with a signal-to-noise ratio of 30dB and an audio bandwidth of
3kHz, we get a maximum data rate of:
C = 3000 * log2(1001)
which is a little less than 30 kbps.
2. Satellite TV Channel
For a satellite TV channel with a signal-to noise ratio of 20 dB and a video bandwidth of 10MHz,
we get a maximum data rate of:
C=10000000 * log2(101)
which is about 66 Mbps.
1. Modem
For a typical telephone line with a signal-to-noise ratio of 30dB and an audio bandwidth of
3kHz, we get a maximum data rate of:
C = 3000 * log2(1001)
which is a little less than 30 kbps.
2. Satellite TV Channel
For a satellite TV channel with a signal-to noise ratio of 20 dB and a video bandwidth of 10MHz,
we get a maximum data rate of:
C=10000000 * log2(101)
which is about 66 Mbps.
Encoding
Langkah pertama dalam merubah nodes
dan link menjadi block-block yang dapat dipakai yaitu dengan cara menghubungkan
mereka sedemikian rupa sehingga bit-bit dapat di transmisikan dari satu node ke
node lainnya. Karena itu, tugas berikutnya yaitu meng-encode binary data dari
node asal yang akan dikirimkan ke sebuah pesan yang dapat dibawa oleh link dan
kemudian di-decode kembali pesan tersebut menjadi data binary yang sesuai di
node tujuan.
Proses ini akan dilakukan di Network
Adapter, sebuah hardware yang menghubungkan node ke link. Network adapter
terdiri dari komponen signalling yang sebenarnya meng-encode bit-bit menjadi
pesan di node pengirim dan di-decode pesan tersebut menjadi bit-bit di node
penerima.
Gambar
1. Signals travel between signalling components;
bits flow between adaptors.
NRZ
Dalam encoding, hal yang pasti
dilakukan yaitu memetakan data bernilai 1 menjadi high signal dan data bernilai
0 menjadi low signal. Hal ini tepat dengan pemetaan yang digunakan skema
encoding bernama crytically enought, non-return to zero (NRZ).
Gambar
2. NRZ encoding of a bit stream.
Pada Gambar 2 secara skematis
menggambarkan pesan NRZ ter-encode yang sesuai dengan transmisi dari urutan
tertentu pada bit-bit.
Masalah yang ada pada NRZ yaitu :
-
Urutan beberapa 1s secara berturut-turut berarti
pesannya tetap tinggi pada link untuk jangka waktu tertentu, begitu jika untuk
beberapa 0s berarti sinyal tetap low untuk waktu yang lama. Hal tersebut memicu
kondisi baseline wander.
-
Transisi yang sering terjadi dari tinggi ke rendah dan
sebaliknya sangat dibutuhkan untuk memungkinkan clock recovery. Pemicu
kesalahan yaitu ketika receiver clock sedikit lebih cepat atau lambat dari
sencer clock, maka akan menyebabkan ketidak cocokan proses decode pesan
tersebut.
NIRZ
Salah satu pendekatan yang menunjuk
masalah ini yaitu disebut non-return to zero inverted (NRZI), menyuruh
pengirim membuat transisi dari arus sinyal untuk encode 1 dan tetap pada arus
sinyal untuk encode 0. Hal ini menyelesaikan masalah 1s berturut-turut, akan
tetapi tidak melakukan apa-apa terhadap 0s berturut-turut.
Manchester
Alternatif lain yaitu Manchester
encoding, melakukan tugas yang lebih jelas dari menggabungkan clock dengan
signal dengan cara mentransmisikan XOR dari NRZ-encoded data dan clock-nya.
Kerjanya yaitu dengan cara membayangkan sebuah local clock sebagai internal
signal yang berganti dari low ke high; sebuah pasang low/high dianggap sebagai
satu siklus clock. Ada juga beberapa variansi yang dimili Manchester Encoding,
yang disebut Differential Manchester, yang mana 1 di-encode dengan
setengah dari signal awal setara dengan setengah dari signal akhir dari
bit signal sebelumnya dan 0 di-encode dengan setengah signal awal berlawanan
dengan setengah signal akhir dari bit-bit signal sebelumnya.
Gambar
3. Different encoding strategies.
Masalah dari Manchester encoding :
-
Menggandakan rata-rata transisi signal yang mana
dibuat pada link, yang artinya penerima hanya memiliki setengah waktunya untuk
mendapatkan tiap-tiap pulse dari signal tersebut.
4B/5B
Encoding terakhir yaitu 4B/5B.
mencoba untuk mengatasi ketidak efisiensi dari Manchester encoding tanpa
mengalami masalah dari memiliki durasi yang berkelanjutan dari high/low signal.
Ide dari 4B/5B yaitu dengan
menambahkan extra bit kedalam stream sehingga untuk mencegah urutan yang
panjang dari 0s atau 1s. Spesifiknya, tiap 4 bit dari data sebenarnya akan
di-encode dalam 5 bit code lalu ditransmisikan ke receiver, oleh sebab itu
dinamakan 4B/5B. 4B/5B encoding juga menghasilkan 80% efisiensi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar